Foto Pelatihan Ketrampilan produk Fibreglass KAYNA AROMATHERAPY
10 Desember 2008Diposting oleh LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA JAKARTA-INDONESIA di 12/10/2008 05:02:00 PM 0 komentar
Label: internal GIATJA
KAYNA AROMATHERAPY, Produk Unggulan BLK Lapas Narkotika Jakarta
02 Desember 2008
KAYNA AROMATHERAPY, adalah produk unggulan Balai Latihan Kerja Lapas Narkotika Jakarta, demikian sambutan Bpk. ABNER JOLANDO sebagai Kasi Kegiatan Kerja dalam penutupan pelatihan pembuatan produk-2 kayna fiberglass tanggal 2 Desember 2008.
Produk KAYNA AROMATHERAPI ini adalah suatu bukti atas keberhasilan program Pembinaan Kemandirian yang dilakukan oleh Seksi Kegiatan Kerja, dimana setelah mereka trampil dan mempunyai keahlian tertentu, merekapun dapat menciptakan suatu produk baru.

Kalapas Narkotika Jakarta, Bapak Joko dalam acara ini, men-"launching" penggunaan nama produk tersebut dengan nama " KAYNA ", yang artinya KARYA NARAPIDANA pada tanggal 2 desember 2008 dan juga meresmikan program baru dari seksi kegiatan kerja yang bernama BLK-LAKOTA PROFIT CENTER, Balai latihan kerja inilah yang telah melahirkan produk KAYNA yang diharapkan dapat menjadi profit center, sehingga keuntungan yang diperoleh dapat digunakan kembali untuk melanjutkan inovasi-inovasi baru bagi pengembangan produk-produk unggulan lainnya dan memberikan pelatihan ketrampilan bagi narapidana secara berkesinambungan.
Saya akan mengusulkan dan memperjuangkan ke Kanwil Depkumham DKI Jakarta, agar bagi para Narapidana yang trampil dan mempunyai keahlian tertentu dapat diberikan sertifikat keahlian, dengan syarat 3 bulan sebelum habis masa pidana-nya, narapidana yang dimaksud sudah harus mampu memberikan pelatihan lanjutan bagi narapidana lainnya yang belum bebas minimal 5 orang dan maksimal 10 orang.

Program Sertifikasi Narapidana ini disampaikan Kalapas, dengan tujuan agar para Narapidana trampil tersebut dapat mempunyai kepercayaan diri kembali setelah menjalani masa pidananya, didalam bermasyarakat kembali karena mempunyai sertifikat keahlian, dan selain daripada itu dengan adanya pelatihan kembali yang diberikan diantara para narapidana itu sendiri, akan tercipta suatu semangat kebersamaan yang positip dan terciptanya sumber daya manusia trampil yang berkesinambungan, sehingga kesinambungan atas produksi KAYNA juga tidak perlu terganggu.
Ini adalah awal dari pembuktian diri warga binaan pemasyarakatan, maka lanjutkan sampai dengan proses akhir produk KAYNA ini secara profesional sehingga mampu menjadi produk unggulan lapas narkotika jakarta dan bersaing dipasar ekspor, ini harapan Kalapas, bapak Joko dalam penutupan sambutannya yang disambut dengan tepukan gemuruh warga binaan pemasyarakatan yang sedang mengikuti pelatihan produk KAYNA di BLK- Lapas Narkotika Jakarta.
Seorang Napi pun berbisik lemah kepada redaksi, " DIDALAM KETERKUNGKUNGAN TELAH LAHIR dan TERCIPTA KAYNA AROMATHERAPY dari tangan-tangan trampil narapidana ".
Alhamdullilah..... selamat berjuang dan lanjutkan ide dasar ini menjadi suatu peluang karya pengabdian dati narapidana kepada bumi pertiwi.
( AWD, team website )
Klik ini, bila mau lihat lengkap brosur KAYNA AROMATHERAPY production
Diposting oleh LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA JAKARTA-INDONESIA di 12/02/2008 01:03:00 PM 0 komentar
Label: internal GIATJA
Cindera mata untuk Kadiv Pemasyarakatan, Dinamika Kelompok, Rapat Internal Kesatuan Pengamanan pada Apel Bersama di Lapas Narkotika Jakarta
12 November 2008
Masih dalam rangkaian penting kegiatan APEL BERSAMA KESATUAN PENGAMANAN Lapas Narkotika Jakarta, yaitu dimulai dengan pemberian cindera mata dari Kalapas Narkotika Jakarta kepada Kadiv Pemasyakatan Kanwil Hukum Ham DKI Jakarta, sebagai bukti kesiapan tekad, bahwa kami siap menerima tugas dan tanggung jawab yang diembankan negara dan bangsa tanpa terkecuali, Maka simbol Foto SATU HATI, SATU TUJUAN, SATU KARYA DALAM PENGABDIAN pun diserahkan.
Kadiv Pas dalam sambutannya mengatakan, karena ini simbol ini menyatakan semangat dan tekad dari Lapas Narkotika Jakarta, maka saya akan selalu mengingatnya dan akan menggantung foto ini pada ruang kerja, dan kemudian beliau memamerkan dengan bangga cindera mata itu kepada semua jajaran Lapas Narkotika Jakarta, dengan tekad yang sama beliau mendukung semangat yang membara ini.
Acara selanjutnya adalah berupa penghargaan perorangan dan regu pengamanan, dimana penilaian atas penghargaan ini didasarkan atas beberapa kriteria, yaitu absensi maksimal baik perorangan maupun regu, pemberian penghargaan ini dimaksudkan sebagai “ reward ” dengan harapan agar dapat memacu antar regu atau perorangan untuk bersaing secara positip didalam melaksanakan tugas yang diembannya.
.jpg)
Kemudian untuk menguji kerjasama regu dan perorangan beberapa permainan dalam bentuk DINAMIKA KELOMPOK yang diberikan oleh Team Humania dari DitjenPAS, karena acara tersebut dikemas secara profesional oleh team dari DitjenPAS, sehingga setiap permainan akan dapat menilai watak, karakter dan sifat orang didalam melakukan kerjasama team dan atau watak seseorang didalam melaksanakan tugas yang diembannya.
Ada yang dengan tertawa terkesan meremehkan, ada yang serius sekali mendengarkan setiap instruksi, ada yang diam dan sulit diprediksi, apakah dia mengerti atau tidak akan tugas yang diberikan pimpinan, tetapi pada intinya dalam DINAMIKA KELOMPOK ini selain refreshing anggota kesatuan pengamanan Lapas Narkotika Jakarta, dapat juga menguji bagaimana seorang pimpinan dapat melihat kinerja anak buahnya/stafnya didalam melaksanakan tugas baik secara regu atau perorangan, sehingga seorang pimpinan tidak harus salah memilih atau salah menilai siapa-siapa yang mampu melaksanakan tugas secara totalitas, secara setengah hati dan juga secara acuh tak acuh.
.jpg)
Selesai DINAMIKA KELOMPOK, acara dilanjutkan dengan makan bersama nasi tumpeng, yang dibuka oleh KADIV PAS, dengan memotong tumpeng pertama dan kemudian diberikan kepada Kalapas Narkotika Jakarta, kemudian semua anggota kesatuan pengamanan ikut makan nasi tumpeng secara bersama-sama dan terkesan hangat dalam kebersamaan malam ini, maka selesailah urutan acara resmi Apel Bersama malam itu.
.jpg)
Tetapi belum selesai acara ini, bagi jajaran kesatuan Pengamanan Lapas Narkotika Jakarta, karena masih ada satu acara puncak internal yang ditunggu-2 adalah “ BRIEFING “ dari Ka KPLP kepada seluruh jajaran Kesatuan Pengamanan, Forum ini sangat dirasakan penting sekali, dimana Ka KPLP memaparkan rencana dan strategi kesatuan pengamanan Lapas Narkotika Jakarta, kemudian anggota dapat mengajukan saran, usulan atau pertanyaan, yang kemudian dapat dijawab oleh regu lain, staf atau Ka KPLP sendiri, dan setiap jawaban yang tidak mendapatkan sanggahan lagi, dianggap menjadi suatu kesepakatan bersama semua jajaran kesatuan pengamanan Lapas Narkotika Jakarta, didalam mengemban tugas dan amanah yang diberikan atau istilah kerennya…. TUPOKSI.
Tepat jam 22.30 WIB acara ditutup dengan foto bersama semua jajaran Kesatuan Pengamanan Lapas Narkotika Jakarta.
Maka dengan selesainya acara malam ini, dapat berlanjut dalam aplikasi pelaksanaan semua program yang telah disepakati bersama dalam jiwa dan semangat SATU HATI, SATU TUJUAN, SATU KARYA dalam PENGABDIAN……
SALAM PEMASYARAKATAN…. ( team website,AWD )
Diposting oleh LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA JAKARTA-INDONESIA di 11/12/2008 02:03:00 PM 0 komentar
Label: internal KPLP
APEL BERSAMA Penyatuan VISI dan MISI Kesatuan Pengamanan Lapas Klas IIA Narkotika Jakarta
11 November 2008
Tanggal 10 Nopember 2008 jam 19.00, tepat masih dalam situasi Hari Pahlawan, kesatuan pengamanan Lapas Narkotika Jakarta ( KPLP ) mengadakan APEL BERSAMA, dengan motto dan semangat SATU HATI, SATU TUJUAN, SATU KARYA DALAM PENGABDIAN.
Dengan dipimpin oleh Bapak Heru Yuswanto. Amd,IP. Msi sebagai Kepala KPLP yang baru, acara dimulai dengan peningkatan disiplin ( baris berbaris ) dan kesiapan phisik ( lari bersama memutar lapangan Olahraga ), setelah itu persiapan resmi untuk gelar APEL AKBAR, sebagai komandan Upacara Ka KPLP dan Inspektur Upacara adalah Bapak H. Wibowo Joko Harjono, Bc.IP,SH, MM, Kalapas Narkotika Cipinang, nampak sekali cukup khidmat dan disiplin acara ini berlangsung, menun jukkan kesiapan jajaran kesatuan pengamanan untuk mengemban amanah tugas sebagai abdi negara, apalagi semua kepala seksi dan kasubsi hadir dalam acara ini, semua menggunakan seragam baru yang sama menunjukkan kesiapan semua jajaran siap bantu membantu/mendukung secara organisatoris sebagai abdi negara warga pemasyarakatan.
.jpg)
Setelah Pengarahan dari Inspektur Upacara, tentang peningkatan kesiapan jajaran Kesatuan Pengamanan untuk menghadapi hari besar Natal dan Tahun Baru, beliaupun meminta agar Apel bersama ini dijadikan tradisi minimal 3 bulanan, sebagai sarana refreshing dan instrospeksi diri pelaksanaan aktivitas pengamanan, sehingga tidak jenuh didalam pelaksanaan tugas rutin yang diembannya.
Acara selanjutnya adalah sambutan dari Kepala Divisi Pemasyarakatan ( KADIV PAS ) kanwil Depkumham DKI, Bapak Drs. Murdjianto Bc.IP, SH, MM, beliau sangat salut dan bangga atas acara Apel Bersama ini, karena dapat meningkatkan Kewaspadaan dan Kerja sama yang baik pada jajaran pengamanan dalam mengemban tugas pokoknya, untuk itu beliau berharap acara Apel bersama ini dapat ditiru atau diikuti oleh Unit Pelaksana Teknis yang lain ( UPT ), demikian beliau menutup sambutannya.
Acara ini bertambah sakral dengan pembacaan doa sebagai awal niat kebersamaan sesuai dengan motto dan semangat SATU HATI, SATU TUJUAN, SATU KARYA DALAM PENGABDIAN

Acara formalpun selesai dan dilanjutkan dalam episode informal yang masih merupakan rangkaian kegiatan apel akbar ini.
SELAMAT BERKARYA KESATUAN PENGAMANAN LAPAS NARKOTIKA JAKARTA dengan satu niat dan satu tujuan demi pengabdian kepada Negara dan Bangsa
SUKSES Selalu…… ( team website lapsustik, AWD )
( MAU LIHAT FOTO LENGKAP lihat dan Klik HALAMAN VIDEO FOTO LAKOTA )
Diposting oleh LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA JAKARTA-INDONESIA di 11/11/2008 01:51:00 PM 0 komentar
Label: internal KPLP
PENINGKATAN KAPASITAS PETUGAS PEMASYARAKATAN DALAM MENERAPKAN NILAI-2 HAK ASASI MANUSIA DI LAPAS
18 Oktober 2008PENINGKATAN KAPASITAS PETUGAS PEMASYARAKATAN DALAM MENERAPKAN NILAI-2 HAK ASASI MANUSIA DI LAPAS, adalah tema dari Pelatihan HAM yang diadakan oleh DITJENPAS dan RWI Indonesia ( Raoul Wallenberg Institute ) dilapas narkotika jakarta pada tanggal 16-17 Oktober 2008.

Sebagai LSM besar yang telah malang melintang dalam bidang HAM dari negara swedia, RWI telah lama mengadakan pelatihan HAM di Indonesia, dimana ditenggarai bahwa pada Lembaga Pemasyarakatan sangat sering terjadi tindak kekerasan pada narapidana, maka RWI-Indonesia bekerjasama dengan Ditjenpas untuk melatih dan mengajarkan tentang HAM kepada Pejabat dan para Petugas LAPAS.
Pada Lapas-lapas di Indonesia dibuatkan 5 model lapas percontohan untuk sebagai tempat aplikasi pelaksanaan HAM pada Narapidana, dimana salah satu pilot projectnya adalah di Lapas Narkotika Jakarta. Setelah Pelatihan dilakukan kepada para Pejabat dan Petugas lapas beberapa waktu yang telah lalu, maka RWI memantau/memonitoring apakah benar bahwa pelatihan HAM yang telah diberikan dapat dilaksanakan di lapas yang dimaksud.
Lapas Narkotika Jakarta, dengan niat "walaupun kecil tapi kami harus berbuat, daripada kami tidak berbuat sama sekali", untuk itu dengan di komandani oleh Bapak Joko, sebagai Kalapas, bulan Juni 2007 dibentuklah POKJA HAM, dengan ketuanya Kasi ADKAM, wakil dan anggota-2nya terdiri dari Ka. KPLP, Kasi BINADIK, Kasi GIATJA, Kasubag Tata Usaha, para Kasubsi dan beberapa petugas pengamanan.
Dan pada awal 2008 dimulailah aplikasi perkuatan pelaksanaan HAM di lapas Narkotika Jakarta, dengan dilaksanakannya program-2 sbb :
1. Pembuatan KOTAK SUARA HAM, setiap Narapidana diberikan fasilitas menyampaikan keluhan, usul dan saran-2.
2. WARTEL 8 line, berkerjasama dengan Telkom Fleksi, sebagai sarana komunikasi antara narapidana dengan keluarga, yang diresmikan oleh Dirjen Pemasyarakatan
3. WEBSITE, sebagai sarana pendukung penyebaran informasi dan keterbukaan lapas didalam pelaksanaan program-2 pembinaan terhadap narapidana, agar pihak diluar tembok Lapaspun dapat mengetahui dan berkomunikasi lewat website.
4. TETAP KUAT, TANPA KEKERASAN, adalah motto Kesatuan Pengamanan Lapas Narkotika, dimana motto ini dideklarasi oleh Bapak Liliek Sujandi, yang pada saat itu masik menjabat sebagai KaKPLP Lapas Narkotika Jakarta ( saat ini telah menjadi Kalapas Lapas Merauke ), dimana pada saat itu diadakan APEL BERSAMA seluruh jajaran keamanan Lapas narkotika, bahwa didalam melakukan Tindakan Pengamanan untuk Narapidana, kita semua harus melakukan 2 pendekatan, yaitu Pengamanan STATIS dan Pengamanan DINAMIS, sehingga diharapkan semua jajaran pengamanan melakukan pendekatan/komunikasi dengan narapidana,dengan itu saluran komunikasi dapat terjalin dengan baik dan tidak tersumbat, dan pada akhirnya semua pihak dapat menghargai hak dan kewajiban setiap manusia, baik dia sebagai narapidana maupun dia sebagai petugas lapas.
5. PASAR MALAM dan LAYAR TANCAP, dengan berjalannya aplikasi pelaksanaan HAM pada program-2 sebelumnya, maka Narapidana diberikan penghargaan dengan memberikan SARANA HIBURAN pada Malam Hari, dimana semua narapidana dikeluarkan dari sel-2nya sejak jam 19.00 s/d jam 22.00, untuk menikmati hiburan nonton film, makan malam dari gerobak-2 makanan, berjoget ria dengan alunan musik dangdut. ( program ini akan ditindak lanjuti 1x dalam 2 bulan ).... semua acara dapat berjalan lancar, tidak terjadi kekacauan sama sekali, narapidana puas karena harkatnya dihargai, petugaspun puas tidak ada gangguan keamanan semua dapat berjalan tertib dan terkendali, bahkan acara ini telah dilakukan 2x pada bulan Juni dan terakhir bulan juli 2008, dilakukan sekaligus mengantar kepergian KaKplp, Lilik Sujandi mengemban tugas sebagai Kalapas Lp Merauke dan kedudukannya sekarang digantikan oleh Bapak Heru.

5 Program utama yang dijalankan dan program-2 lainnya inilah yang kemudian dipantau oleh RWI dan Ditjenpas, baik lewat website lapas, maupun interaksi langsung antara lapas narkotika dan RWI, sehingga kemudian diadakannya acara ini, dimana para pembicara/fasilitatornya adalah mereka-2 yang telah pernah menerima pelatihan HAM sebelumnya( Bapak Yandi dari DitjenPas, Ibu Sri Astiana dari Kanwil Depkumham DKI, Bapak Lilik Sujandi dari Lapas Merauke, Bapak Abner Jolando dan Bapak SP.Barus dari Lapas Narkotika Jakarta ) sebagai bentuk test case terhadap kemampuan pemahaman terhadap pelaksanaan HAM yang telah mereka lakukan selama ini dan akan menjadi pelajaran baru bagi para peserta latihan HAM lainnya, didalam menimba pelajaran dan pengalaman yang telah diberikan dari para fasilitatornya.
Semoga dengan kesadaran dan pemahaman yang tinggi tentang Hak Asasi Manusia, maka setiap orang siapapun dia, yang sadar akan harkatnya sebagai ciptaan TUHAN, selalu mempunyai 2 implikasi, yaitu HAK dan KEWAJIBAN sebagai MANUSIA dimanapun, kapanpun dan siapapun dia. ( Red.. EWD )
dan untuk melihat foto / video lengkap dapat klick : http://videolakota.blogspot.com/
Diposting oleh LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA JAKARTA-INDONESIA di 10/18/2008 10:33:00 AM 0 komentar
Label: internal Lapas
APA DAN SIAPA PSIKOPAT ??
06 Oktober 2008
APA DAN SIAPA PSIKOPAT ?
Psikopat. Bagi orang awam kata itu menunjuk pada sebuah julukan seseorang pembunuh berdarah dingin. Mungkin kasus psikopat yang masih hangat dalam ingatan kita adalah pembunuhan berantai dengan cara mutilasi oleh Rian. Banyak orang yang tertipu dengan penampilan Rian yang terlihat pendiam dan alim. Belum lagi ekspresi wajah Rian yang terlihat sangat datar saat mengakui perbuatannya dan melakukan rekonstruksi pembunuhan.
hal ini banyak membuat orang menjadi menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi apa sebenarnya itu psikopat dan apa serta bagaimana psikopat itu bisa muncul pada diri seseorang? Disini saya mencoba menceritakan secara singkat hal tersbut. Mudah-mudahan pengetahuan ini bisa sedikit menambah wawasan kita yang berkecimpung di dunia pemasyarakatan.
Istilah psiko (psycho) atau psiki (psyche) berasal dari Yunani yang berarti jiwa dan pathos yangberarti penyakit. Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai Sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral,
selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral).
Seorang psikopat dapat melakukan apa saja yang diinginkan dan yakin bahwa yang dilakukannya itu benar. Sifatnya yang pembohong, manipulatif, tanpa rasa kasihan atau rasa bersalah setelah menyakiti orang lain, tanpa ekspresi, sulit berempati dengan orang lain dan mudah mengancam siapa saja, bahkan kadang-kadang ia dapat bertindak kejam tanpa pandang bulu. Pembicaraan mengenai dirinya sangat melambung tinggi dan melihat kelemahan dirinya ada pada orang lain dan tidak peduli terhadap siapapun.
Sosok seorang psikopat pada umumnya memiliki pribadi dan penampilan yang menarik dan menyenangkan. Bahkan banyak diantara mereka memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi dan professional dalam bidang tertentu. Seperti dokter, politikus, pemuka agama, psikiater, guru, bahkan petugas penegak hukum. Dalam kasus criminal psikopat dikenal sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.
Apa Penyebabnya? (etiologi)
1. Kelainan di otak.
Hubungan antara gejala Psikopat dengan kelainan sistem serotonin, kelainan struktural (“…decreased prefrontal grey matter, decreased posterior hippocampal volume and increased callosal white matter) dan kelainan fungsional (… dysfunction of particular frontal and temporal lobe) otak. (Pridmore, Chambers & McArthur 2005).
2. Lingkungan.
Mereka yang berkepribadian psikopat memiliki latar belakang masa kecil yang tidak memberi peluang untuk perkembangan emosinya secara optimal. (Kirkman, 2002).
3. Kepribadian sendiri.
Adanya korelasi antara perilaku orang-orang dengan sindrom psikopat, dengan skor yang tinggi dalam tes kepribadian Revised NEO Personality Inventory (NEO-P-I-R,1992). (Miller & Lynam, 2003)
Selain beberapa penelitian diatas masih banyak lagi penelitian tentang etiologi psikopat. Sebagian besar psikolog dan psikiater masih berpegang pada faktor lingkungan dalam timbulnya kepribadian psikopat ini.
Tidak mudah mendiagnosa psikopat. Namun ada tiga ciri utama yang biasanya melakat pada seorang psikopat, yakni
1. Egosentris,
2. Tidak punya empati
3. Tidak pernah menyesal.
Selain itu terdapat sepuluh karakter spesifik psikopat. Di antaranya adalah :
1. Persuasif dan memesona di permukaan
2. Emosi dangkal
3. Manipulatif
4. Pembohong
5. Impulsif
6. Pintar bicara
7. Toleransi yang rendah pada frustasi
8. Membangun relasi yang singkat dan episodik
9. Gaya hidup parasitik
10. Melanggar norma sosial yang persisten.
Psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada kisah "pembunuhan", Penelitian menyatakan bahwa 1% populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya. lewat berbohong, mencurangi, mencuri, mememanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan. Mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.
Psikopat di tempat kerja berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha sekeras-kerasnya demi mereka sendiri. Perbedaan keduanya adalah, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis," Mereka tidak peduli. Mereka tidak berpikir dirinya adalah psikopat. Mereka tidak berpikir apa yang sedang dilakukan adalah salah. Mereka hanya berpikir dirinya pintar, dan jika semua orang secerdas mereka, semuanya pun akan melakukan hal serupa," katanya.
Sistem pendidikan yang menuntut mengejar prestasi, juga bisa memicu tumbuhnya pribadi psikopat. Bila tiap anak dituntut menjadi nomor satu, sementara ia sadar
kemampuannya terbatas, apa yang terpikir olehnya untuk mencapai tujuan itu? Bisa saja dia mencari jalan pintas, dan hal ini dapat mengundang anak menjadi psikopat.
Jadi pembaca, perlu diingat gelar psikopat bisa nemplok tanpa pilih tempat dan status seseorang. Sama persis kaya HIV/AIDS kaannn...??!!! Apalagi gaya hidup masyarakat yang modern tanpa sadar ikut andil melahirkan psikopat. Kita bisa belajar banyak dari kasus Rian yang karena beratnya tekanan hidup, akhirnya berbagai hal yang menyimpang dari norma dan hukum, justru menjadi aktivitas "sehari-hari" . Jadi kalo bisa habis baca artikel ini mulai introspeksi diri deh..apakah Anda memiliki ciri2 seorang psikopat...???? mudah-mudahan sihh ga ada yaaa......
(Gita noverita Sari)Sumber Bacaan : Artikel Internet dan Buku-buku Psikologi
Diposting oleh LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA JAKARTA-INDONESIA di 10/06/2008 10:28:00 PM 1 komentar
4 TIPE MANUSIA MENGHADAPI TEKANAN HIDUP
09 September 2008
"Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh" (John Gray)
Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,
hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai
seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan
masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan
cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan
sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari.
Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang
dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi
satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia
ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi,
rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada
saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa
tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini
perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan
hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon
generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang
menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan.
Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega.
Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan
kita sebagai pendamping mereka.
Tipe kedua, tipe lempeng besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan
dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika
situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan
tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu
menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa.
Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya
menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau
mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam
hidupnya.
Tipe ketiga, tipe kapas. Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi
tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah
Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi.
Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu,
dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera
melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai
lagi.
Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong. Inilah tipe yang ideal dan
terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini
karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih
termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat
ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya
teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu
biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah,
sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah
yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat
finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang
kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.
Bangun network
Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru
dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke
daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti
rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun
netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun
kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam
daerah tiga top sales.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada
musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin
dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap
hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku
tidak berhasil membungkam kreativitasnya.
Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The
Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini
juga dialami Ho Chi Minh.
Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho
ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat
dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A
Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.
Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah
Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda?
Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini.
Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe
selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola
pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi
suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?
Gytha (Sumber : Berani Gagal.com)
Diposting oleh LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA JAKARTA-INDONESIA di 9/09/2008 09:11:00 AM 1 komentar
Label: Self Motivation
Dilema Menjadi Pecandu Narkoba
04 September 2008
Pecandu Narkoba, Apakah Korban atau Pelaku Kriminal?
Jika Anda adalah Roy Marten, atau Shelia Marclia, apa yang Anda butuhkan saat ini? Perawatan dan rehabilitasi, atau penjara?
Pertanyaan ini harus dijawab dengan baik karena menyangkut kepentingan masa depan manusia itu dan negara.
Untuk itu, diperlukan argumen yang mengedepankan rasa keadilan dan kepentingan perlindungan masyarakat.
Mari mulai dengan penjara, pilihan yang lazim dilakukan. Karena sampai saat ini hampir semua pelaku Narkoba menjadi sasaran empuk target operasional kepolisian. Kabarnya bahkan tiap bulannya setiap Polsek maupun Polres di bagian Narkoba punya target jumlah tertentu yang harus di capai oleh personelnya untuk bisa menangkap pelaku yang terlibat di jaringan Narkoba.
Alhasil saat ini hampir semua penghuni Lapas mengalami Over Capacity. Lapas Narkoika Jakarta saat ini saja sudah mengalami over load penghuni sebanyak 2 kali lipat dari kapasitas maximum yang ditetapkan. Tapi kemudian timbul pertanyaan Apa manfaat penjara bagi pemakai narkoba seperti Roy Marten atau Shelia Marcelia ?
Pendapat umum menyatakan, penjara memberi efek jera. Artinya, mereka yang melakukan tindakan melawan hukum akan takut dan berpikir 1000 kali untuk mengulang perbuatannya karena tidak mau merasakan kembali dinginnya kamar ’hotel prodeo’. Pengalaman hidup di penjara yang pahit dan sengsara diharapkan dapat menjadi momok bagi mereka.
Benarkah? Bagi pengidap masalah adiksi terutama Narkoba pemenjaraan tidak pernah efektif. Sulit mencari bukti itu dalam literatur adiksi.
Kebutuhan akan zat adiktif atau perilaku yang digandrunginya, seperti judi, minum-minuman keras, gaya hidup yang hedonisme akan memberi dorongan yang amat besar bagi si pelaku sehingga mengalahkan mekanisme berpikir rasional dan rasa takut akan konsekuensinya. Karena itu, pencandu narkoba adalah residivis paling umum di lembaga pemasyarakatan di mana pun di dunia. Pertanyaannya, mengapa?
Adiksi Penyakit kronis
WHO (2002) mengakui adiksi sebagai sebuah penyakit kronis yang sering kambuh (chronically relapsing disease). Untuk itu, perawatan dan rehabilitasi jangka panjang (lebih dari enam bulan) dibutuhkan. Bukti-bukti empirik menunjukkan, perawatan dan rehabilitasi saja tidak cukup, dibutuhkan program purnarawat yang jangka waktunya bisa lebih dari enam bulan.
Karena untuk mencapai kondisi ”pulih” seorang adiksi narkoba harus melewati tiga tahapan pemulihan yaitu : ’ Tahap Rehabilitasi Medis’, Tahap Rehabilitasi Non Medis’ dan ’Tahap Bina Lanjut’ (after care). Semua ini berarti, ”penyembuhan” terhadap individu yang mengalami permasalahan adiksi narkoba bukan proses sederhana. Para ahli sepakat, pencandu narkoba mempunyai masalah medis, psikologis, dan sosial yang serius.
Kita tahu, musuh masyarakat bukan pencandu, tetapi produsen dan pengedar. Statistik Dep.Kum dan HAM (2006) menunjukkan, jumlah mereka di penjara jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pencandu (73 persen pengguna, 25 persen pengedar, 2 persen produsen). Hukuman mereka juga lebih ringan dibandingkan dengan pencandu.
Pemenjaraan pencandu menyebabkan penjara penuh dan overcrowded, terjadinya kekerasan dan eksploitasi, penularan penyakit (termasuk HIV/AIDS), dan pengembangan jaringan baru yang melibatkan pencandu dalam kejahatan narkoba terorganisasi. Jika kita memahami persoalannya seperti ini, mengapa kita terus melakukan kesalahan yang sama?
Mungkin tanpa kita sadari dengan semakin banyaknya jumlah orang yang menjadi penghuni penjara maka semakin banyak pula negara kehilangan sumber produktivitas SDM. Belum lagi negara harus membiayai fasilitas dan biaya operasional setiap Lapas. Jika dipikirkan matang-matang, seorang pencandu—yang dalam banyak kasus kehilangan tujuan hidup—dapat ditangani secara lebih kreatif dan bermanfaat.
Penjara seolah menjanjikan adanya detoksifikasi dengan model kalkun dingin (cold turkey), yaitu bebas dari zat/obat adiktif. Namun, dengan maraknya peredaran narkoba di penjara, detoksifikasi pun tidak mungkin dijalankan secara efektif.
Tindakan selanjutnya, yaitu perawatan dan rehabilitasi, jelas tidak dapat terpenuhi di dalam penjara karena programnya tidak dirancang khusus untuk itu. Dibandingkan dengan panti rehabilitasi pecandu narkoba yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta yang jauh lebih lengkap, kondisi, fasilitas dan sumber daya manusia di Lapas cukup memprihatinkan. Akibatnya, banyak pencandu yang sakit, ketularan penyakit (termasuk HIV/AIDS), dan meninggal.
Karena tingginya penularan HIV di penjara, negara bahkan terpaksa membuat program baru, seperti rumatan metadon dan program pengurangan dampak buruk (harm reduction) lainnya.Selain itu program rehabilitasi di Lapas kadang dijadikan sarana untuk ’mengisi waktu luang saja’ tanpa diiringi oleh kesungguhan dari dalam diri untuk ’sembuh’ dari penyakit adiksinya.
Orang-orang seperti Roy Marten atau Fariz RM akan lebih bermanfaat, bagi dirinya dan orang lain, jika dimasukkan dalam program rehabilitasi medik, lalu sosial. Mereka perlu mencari makna hidup dengan membantu orang lain melalui bakat-bakat dan kemampuan mereka.
Mengelola sumber daya di dalam negara yang miskin—walau katanya kaya—seperti Indonesia, kita harus pandai-pandai berhemat. Ini bukan hanya soal finansial, melainkan justru soal memaksimalkan modal sosial yang ada. Jangan sampai bakat- bakat para pencandu habis dipenjara sekaligus bersama tubuh dan jiwa mereka.
Investasikan sumber daya yang sangat langka di negara ini untuk memerangi narkotikanya, mencegah dampak buruknya, dan mendidik masyarakat. Pencandu bukan musuh masyarakat. Oleh karena itu marilah dari sekarang kita lebih memfokuskan diri bagaimana menangani pecandu narkoba yang lebih efektif dan efesien lagi.
Apakah mereka butuh rehabilitasi dan perawatan, ataukah jeruji penjara yang hanya bisa menahan sementara rasa sugesti tanpa ada cara untuk bisa menghilangkanya?? Dan kemudian setelah keluar penjara kembali relapse??. Jangan sampai kita terjebak ke dalam lingkaran masalah yang tak ada ujungnya.
(Gita Noverita Sari)(Sumber : Irwanto Dosen Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya)
Diposting oleh LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS IIA NARKOTIKA JAKARTA-INDONESIA di 9/04/2008 01:39:00 PM 0 komentar
Label: Terapi dan Rehabilitasi
